Tampilkan postingan dengan label Radja Palacca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Radja Palacca. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Juli 2012

Sumpah “Bibir Pecah” Arung Palakka di Buton


Hingga akhir 1990-an, dalam permainan kanak-kanak di Buton, terdapat istilah “sumpah pogoso” atau sumpah bibir pecah yang digunakan untuk menguji kebohongan teman sepermainan. Ternyata, sumpah itu berasal dari hikayat pelarian Arung Palakka di Kesultanan Buton di abad ke-17. Kolera dan tipus mungkin sudah biasa kita dengar legenda dan kisah keganasannya bila sudah mewabah. Dalam cerita sejarah, pendiri kota Batavia, Jan Pieterzoon Coen, disebut-sebut mati pada September 1629 dikarenakan kolera. Sementara dalam cerita fiksi, wabah tipus dijadikan latar novel Frankenstein. Tapi pernahkah anda membayangkan kalau sariawan atau bibir pecah-pecah melanda di satu wilayah ? 
Arung Palakka dan William Wallace
Mendengarnya sepintas memang terasa lucu. Untungnya juga malapetaka itu tidak pernah terjadi. Tapi seandainya saja Arung Palakka ketika lari ke Buton tidak bersembunyi di dalam gua, maka, bisa jadi, seluruh wilayah Kesultanan Buton ketika itu dilanda pogoso atau bibir pecah-pecah. Siapa yang tahu!

Ini lantaran sumpah yang diucapkan Sultan Buton ketika serombongan pasukan pencari buronan dari Kerajaan Gowa datang menghadap ke La Awu Sultan Malik Surullah karena mendengar kabar kalau Raja Bugis itu lari dan mencari suaka di wilayah kesultanan yang dipimpinnya.

“Saya tidak bohong. Tapi kalau benar Arung Palakka ada di atas tanah Buton, saya bersumpah seluruh rakyat Buton akan terkena pogoso,” begitulah kira-kira rekaan sumpah yang diucapkan sultan yang memerintah Buton mulai 1654-1664 kepada rombongan pasukan itu.

Buton memang tidak termakan sumpah. Soalnya Arung Palakka yang bergelar Petta MelampeE Gemme’na (Pangeran yang Berambut Panjang) itu bersembunyi di sebuah gua yang terletak di dinding tebing timur Benteng Wolio. Bukannya di ‘atas’ tanah Buton!

Hingga kini, gua persembunyian Arung Palakka itu bisa terlihat jelas. Jalanan setapak di bibir tebing curam di sekitarnya sudah disemen untuk memudahkan orang mencapai dan melihat gua yang ada dalam perlindungan benteng seluas 22,8 hektar dan disebut-sebut sebagai benteng terluas di dunia itu.

Di Buton, Arung Palakka dikenal dengan nama Latoondu. Bisa jadi ini adalah nama dari pelisanan yang dilakukan ‘lidah lokal’ dari dua kata “La” (awalan untuk nama laki-laki di masyarakat Buton) dan “Tounru” (Sang Penakluk—salah satu gelar Arung Palakka). Karenanya, gua persembunyian bangsawan Bone itu dinamai Liana Latoondu.

Leonard Y Andaya dalam bukunya Warisan Arung Palakka menyebut, menurut sumber Belanda (Speelman) dan catatan harian Raja-raja Gowa dan Tallo, peristiwa ini terjadi sekitar akhir tahun 1660 dan awal 1661, tatkala Raja Bone-Soppeng itu melarikan diri ke Butung atau Buton, membawa keluarga, dan para pengikutnya.

Perlindungan yang diberikan Sultan Buton ternyata terus dikenang dan menjadi dendam tersendiri bagi Gowa. Pada 1666, Sultan Hasanuddin mengirim armada berkekuatan 20.000 personil untuk menghantam Buton karena alasan itu.

Pulau Makassar

 
Jejak lainnya yang berkaitan dengan cerita pelarian Arung Palakka juga terlihat jelas dari Benteng Wolio yang mengelilingi Keraton Kesultanan Buton. Bila kita melepas pandang ke Teluk Baubau, terdapat pulau kecil yang diapit Pulau Buton dan Pulau Muna. Nama pulau itu adalah Pulau Makassar, yang letaknya hanya sekitar 10 menit menggunakan perahu bermesin dari Baubau.

Ada beberapa versi untuk menjelaskan perihal penamaan ‘Makassar’ untuk pulau berbentuk lingkaran tersebut. Pertama, karena di sanalah tempat para hulubalang dan pendamping Arung Palakka diberi tempat bermukim oleh Sultan Buton karena enggan lagi kembali ke tanah Bugis.

Versi lainnya mengatakan, pulau seluas 104 kilometer persegi itu diberi nama serupa ibukota Sulawesi Selatan itu karena di sanalah para pasukan Sultan Hasanuddin diberi wilayah permukiman. Sepasukan prajurit itu enggan pulang ke Gowa lantaran gagal menemukan buronan nomor satu Gowa, Arung Palakka. Apalagi jika mereka gagal, berarti hukuman menanti dari raja.

Sementara klaim lain menyebut, pulau itu dulunya bernama Liwuto; yang dalam bahasa Buton juga berarti pulau. Pulau nelayan itu dulunya adalah tempat menawan 5.500 pasukan Bontomarannu yang ditangkap oleh pasukan Kompeni-Arung Palakka yang didatangkan dari Batavia ketika Gowa menyerang Buton pada 1666.

Sumpah pogoso sendiri, setidaknya hingga tahun 1990-an, masih dipakai oleh kanak-kanak setempat bilamana mereka hendak menguji bohong atau tidaknya kawan sepermainannya. (p!)

http://www.panyingkul.com/view.php?id=263&jenis=tahukahkita
Read More

Menilai Pelajaran Sejarah dan Peristiwa Penting Arung Palakka


Mungkin tak banyak yang tahu kalau Pulau Buton (kadang disebut Butung), pernah menjadi tempat pelarian Arung Palakka dari kejaran pasukan Sultan Hasanudin. Pelajaran sejarah yang pernah singgah tatkala kecil dulu paling hanya menjabarkan kalau si pangeran berambut panjang ini hanyalah seorang pengkhianat.

Gua di Buton, tempat persembunyian Arung Palakka

Ia berlari mencari bantuan VOC dan melawan pahlawan Indonesia. Tapi apakah kita tahu bahwa ternyata buat sebagian orang—khususnya orang Bone dan Buton—Arung Palakka bukanlah sosok jahat, yang seperti didiskreditkan sekarang ini.

Alkisah, sekitar tahun 1660, Bone dan Gowa bertikai. Arung Palakka sebagai salah seorang pemimpin Bone tidak bisa menerima perlakuan para bangsawan Gowa yang menindas rakyatnya. Perlakuan kerja paksa untuk membangun benteng di perkubuan daerah Makassar jelas membuat rasa siri (harga diri)-nya tercabik-cabik, apalagi setelah para bangsawan Bone juga dipaksa ikut kerja paksa tersebut.

Akhirnya bersama Tobala, pemimpin Bone yang ditunjuk oleh Gowa, mereka melakukan perlawanan dengan melarikan orang-orang Bugis dari kerja paksa tersebut. Sebenarnya para prajurit Gowa hanya mencari Tobala karena dianggap tidak mampu mengawasi budak dari Bone tersebut.

Namun Arung Palakka yang merasa tidak memiliki tempat lagi di bumi yang disebut Belanda Celebes memutuskan pergi saja untuk mencari orang yang dapat menolong mengembalikan siri mereka. Dan sebelum ia pergi ke Pulau Jawa, terlebih dahulu ia berlari ke Buton untuk mencari perlindungan Raja Buton X yang waktu itu bernama La Sombata atau lebih dikenal bergelar Sultan Aidul Rahiem.

Pada saat pasukan Gowa mencari Arung Palakka hingga ke Buton. Sultan Buton bersumpah bahwa mereka tidak menyembunyikan Arung Palakka di atas pulau mereka.
”Apabila kami berbohong, kami rela pulau ini ditutupi oleh air,” ucap Sultan Buton yang diucapkan kembali oleh salah seorang penerusnya. Ternyata sumpah tersebut dianggap sah karena pada kenyataannya Pulau Buton memang tidak pernah tenggelam hingga saat ini. Lalu di mana letak kebenaran sejarah yang menyatakan bahwa benar lokasi yang sekarang dijadikan sebagai salah satu objek wisata sejarah disana, merupakan tempat Arung Palakka bersembunyi?

Ceruk
Sistem batuan di daerah Buton bisa jadi merupakan salah satu alasan yang jelas mengenai hal ini. Daerah batuan berkarang dengan ceruk-ceruk kecil di sepanjang bukitnya, sangat menggambarkan kebenaran sejarah tersebut.Pernyataan Sultan Buton pada saat menyembunyikan Arung Palakka dianggap benar. Mereka tidak menyembunyikan Arung Palakka di atas dataran tanah mereka. Namun di antara ceruk-ceruk tersebut. Yang menurut pendapat orang Buton bukanlah sebuah dataran, melainkan goa, yang berada di dalam tanah. Kepintaran bersilat lidah Sultan Buton inilah yang akhirnya menyelamatkan Arung Palakka dari pengejaran pasukan Gowa.

Hal ini juga dibenarkan oleh pemuka adat setempat yang bernama La Ode Hafi’i. Ia menjelaskan bahwa antara kesultanan Buton dan Bone sejak dahulu memang telah terikat dalam perjanjian sebagai saudara. ”Bone raja di darat, Buton raja di laut,” ucapnya memberitahu isi ikatan tersebut pada saya, akhir bulan lalu.Hal itu juga yang mendasari mengapa Sultan Buton memutuskan menolong Arung Palakka dan turut membiayai Arung Palakka bersama 400 lebih pengikutnya menuju Batavia.

Ceruk bersejarah tersebut kini berada di sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Bau-Bau. Tak sulit mencarinya karena berada tak jauh dari benteng Wolio, yang terletak di daerah paling tinggi di Pulau Buton.Menuju ke ceruk tersebut juga tidak sulit. Hanya daerahnya yang agak terjal membuat kita harus agak berhati-hati melewatinya.Saat saya akhirnya tiba di goa tersebut. Hilang semua pemikiran saya mengenai gambar sebuah goa pada umumnya di Jawa. Tempat persembunyian Arung Palakka tersebut lebih pantas bila dikatakan ceruk dengan air yang terus menetes-netes dari atapnya.

Kemudian ada sedikit daerah yang kini diberi plesteran semen, yang disinyalir sebagai tempat Arung Palakka duduk bersembunyi. Tak bisa kita berdiri tegak di sini, agak bungkuk untuk menghindari bagian tajam yang menghiasi atas ceruk. Namun dapat dipastikan, banyaknya air yang terus menetes dari atas ceruk yang bisa membuat Aru Palakka bisa bertahan lama di sana.

Rumah Adat
Hal keberadaan singgahnya Aru Palakka kemudian dikuatkan juga oleh pernyataan ahli waris kesultanan Buton. Keluarga istana yang rumah tinggalnya kini dijadikan rumah adat. Yang bisa didatangi siapa saja untuk menjelaskan keberadaan rakyat Buton, juga tidak menyangkal hal tersebut. Di rumah adat berkamar enam dan berlantai dua itu, juga terpampang foto dan patung Arung Palakka. Ini menandakan memang benar keberpihakan kesultanan Buton pada Arung Palakka. Bahkan mereka tidak merasa itu sebuah kesalahan, karena memang perjanjian adat yang ada sudah mengikat mereka dengan Bone.

Terlepas dari benar tidaknya sejarah tersebut. Satu yang harus dicatat, adalah mengenai tingginya perhatian masyarakat Buton terhadap masa lalunya. Bahkan dengan Arung Palakka yang relatif orang luar Buton (dan dianggap pengkhianat pada masa Orde Baru), mereka tetap mengenang keberadaannya di sana.Lalu timbul pertanyaan, masih tersisakah rasa penghormatan itu pada diri manusia Indonesia pada umumnya kini? Pahlawan sendiri kadang kita lupakan juga.
Read More

Rabu, 04 Juli 2012

Arung Palakka, Sang Jagoan Batavia

Radja Palacca
Jauh sebelum menaklukan Sultan Hasanuddin di Selat Buton, Arung Palakka adalah seorang jagoan tanpa tanding yang ditakuti di seantero Batavia. Lelaki gagah berambut panjang dan matanya menyala-nyala ini memiliki nama yang menggetarkan seluruh jagoan dan pendekar di Batavia. Keperkasaan seakan dititahkan untuk selalu bersemayam bersamanya. Pria Bugis dengan badik yang sanggup memburai usus ini sudah malang melintang di Batavia sejak tahun 1660, ketika ia bersama pengikutnya melarikan diri dari cengkeraman Makassar.

Batavia di abad ke-17 adalah arena di mana kekerasan seakan dilegalisir demi pencapaian tujuan. Di masa Gubernur Jenderal Joan Maetsueyker, kekerasan adalah udara yang menjadi napas bagi kelangsungan sistem kolonial. Kekerasan adalah satu-satunya mekanisme untuk menciptakan ketundukan pada bangsa yang harus dihardik dulu agar taat dan siap menjadi sekrup kecil dari pasang naik kolonialisme Eropa. Kekerasan itu seakan meneguhkan apa yang dikatakan filsuf Thomas Hobbes bahwa manusia pada dasarnya jahat dan laksana srigala yang saling memangsa sesamanya. Pada titik inilah Arung Palakka menjadi seorang perkasa bagi sesamanya.

Arung Palakka adalah potret keterasingan dan menyimpan magma semangat yang menggebu-gebu untuk penaklukan. Ia terasing dari bangsanya, bangsa Bugis yang kebebasannya terpasung. Namun, ia bebas sebebas merpati yang melesat dan meninggalkan jejak di Batavia. Ia sang penakluk yang terasing dari bangsanya. Malang melintang di kota sebesar Batavia, keperkasaannya kian membuncah tatkala ia membangun persekutuan yang menakutkan bersama dua tokoh terasing lainnya yaitu pria Belanda bernama Cornelis Janszoon Speelman dan seorang Ambon yang juga perkasa bernama Kapiten Jonker. Ketiganya membangun persekutuan rahasia dan memegang kendali atas VOC pada masanya, termasuk monopoli perdagangan emas dan hasil bumi.

Ketiga tokoh yang teralienasi ini adalah horor bagi jagoan di masa itu. Speelman adalah petinggi VOC yang jauh dari pergaulan VOC. Dia tersisih dari pergaulan karena terbukti terlibat dalam sebuah perdagangan gelap saat masih menjabat sebagai Gubernur VOC di Coromandel tahun 1665. Arung Palakka adalah pangeran Bugis yang hidup terjajah dan dalam tawanan Makassar. Ia memberontak dan bersama pengikutnya melarikan diri ke Batavia. VOC menyambutnya dengan baik dan memberikan daerah di pinggiran Kali Angke, hingga serdadu Bugis ini disebut To Angke atau orang Angke. Sedang Kapiten Jonker adalah seorang panglima yang berasal dari Pulau Manipa, Ambon. Dia punya banyak pengikut setia, namun tidak pernah menguasai satu daerah di mana orang mengakuinya sebagai daulat. Akhirnya dia bergabung dengan VOC di Batavia. Rumah dan tanah luas di daerah Marunda dekat Cilincing diberikan VOC kepadanya.

Baik Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker sama-sama berangkat dari hal yang sama yaitu keterasingan. Ketiganya punya sejarah penaklukan yang membuat nama mereka menjadi legenda. Speelman menjadi legenda karena berhasil membuat Sultan Hasanuddin bertekuk lutut di Makassar dalam sebuah perlawanan paling dahsyat dalam sejarah peperangan yang pernah dialami VOC. Bersama Arung Palakka, Speelman menghancurkan Benteng Sombaopu yang menjadi momok bagi VOC serta rintangan (barikade) untuk menguasai Indonesia timur, khususnya jalur rempah- rempah Maluku, pada bulan November 1667.

Arung Palakka sangat populer sebab berhasil menaklukan Sumatra dan membumihanguskan perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC. Arung Palakka menyimpan dua sisi diametral: di satu sisi hendak membebaskan Bugis, namun di sisi lain justru menaklukan daerah lain di Nusantara. Kisahnya berawal pada tahun 1662, dibuat perjanjian antara VOC dengan pemimpin Minangkabau di Padang. Perjanjian yang kemudian di sebut Perjanjian Painan itu bertujuan untuk monopoli dagang di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Sayang, rakyat Minang mengamuk pada tahun 1666 dan menewaskan perwakilan VOC di Padang bernama Jacob Gruys. Arung Palakka kemudian dikirim ke situ dalam ekspedisi yang dinamakan Ekspedisi Verspreet. Bersama pasukan Bugis, ia berhasil meredam dan mematikan perlawanan rakyat Minangkabau hingga menaklukan seluruh pantai barat Sumatera, termasuk memutus hubungan Minangkabau dengan Aceh. Kekuasaan VOC diperluas hingga Ulakan di Pariaman. Di tempat inilah, Arung Palakka diangkat sebagai Raja Ulakan.

Sedang Kapiten Jonker punya reputasi menangkap Trunojoyo dan diserahkan pada pegawai keturunan VOC keturunan Skotlandia, Jacob Couper. Tiga tokoh yaitu Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker telah menaklukan Nusantara di Barat, Tengah, dan Timur. Mereka punya andil besar untuk mengantarkan VOC pada puncak kejayaannya pada masa Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker. Tidak heran kalau ketiga tokoh ini menjadi tulang punggung kekuatan VOC pada masa itu. Maetsueyker tidak berani menolak permintaan ketiganya sebab mereka punya bala tentara yang besar. Di luar ketiganya, ia hanya mengandalkan serdadu bayaran multibangsa dengan loyalitas yang rendah. Akibat kekuasaan yang besar serta penguasaan monopoli emas ini, Speelman berhasil menjadi Gubernur Jenderal VOC pada tahun 1681.

Sayangnya, kisah menakjubkan dari tiga jagoan Batavia ini harus berakhir dalam waktu yang tidak lama. Musuh Speelman yaitu perwira asal Perancis bernama Isaac de’lOrnay de Saint Martin langsung bergerak. Komandan perang yang memenangkan peperangan di Cochin, Colombo, Ternate, Buton, Jawa Timur, dan Jawa Barat ini, berhasil mengungkap semua korupsi dan keculasan Speelman hingga akhirnya Speelman disingkirkan dari posisi Gubernur Jenderal. Isaac juga berhasil mempengaruhi Gubernur Jenderal Champuys untuk menyingkirkan Kapiten Jonker. Wilayah kekuasaan pria Ambon ini di Pejonkeran Marunda dikepung, kemudian diserang. Kapiten Jonker tewas terbunuh dalam penyerbuan itu. Kepalanya dipancung dan dipertontonkan. Pengikutnya dibunuh dan keluarganya diasingkan ke Colombo dan Afrika.

Sedang Arung Palakka disingkirkan secara halus dengan cara memasung langkahnya untuk tetap menjadi Raja Bone, kemudian kekuasaannya dikontrol dari Benteng Rotterdam. Pria Bugis ini dijauhkan dari hiruk-pikuk politik di Batavia sehingga kehilangan semua kuasa dan pengaruh besarnya di jantung kekuasaan VOC. Ia seakan diasingkan agar tidak lagi membangun networking atau jaringan dengan bala tentaranya di Batavia. Hingga akhirnya Arung Palakka kesunyian dan menjemput ajalnya di bumi Sulawesi. Namun, namanya telah terpatri sebagai jagoan tanpa lawan di tanah Batavia.


Read More

Nama Arung Palakka Sesungguhnya

La Tenri Tatta To Patunru
Nama Arung Palakka cukup banyak, sehingga bila ingin disebut semuanya bisa menjadi barisan kalimat nama yang panjang. Kata Arung Palakka hanyalah sebuah gelar, untuk mengetahui siapakah nama sesungguhnya sang pembebas itu ?
Berikut daftar nama-namanya :

Arung Palakka adalah tokoh sentral yang mengubah jalannya percaturan kekuasaan di kawasan Sulawesi Selatan pada Abad XVII. Dalam banyak buku tentang ketokohan dan perjuangannya, seringkali membuat pembaca, khususnya peminat Sejarah Sulawesi Selatan yang bukan orang Bugis Makassar menjadi bingung karena banyaknya nama yang dilekatkan pada diri Arung Palakka. Berikut ini penjelasan satu persatu mengenai nama - namanya.

1.La Tenri Tatta Toappatunru, adalah nama kecil dan nama remaja Arung Palakka. Kata depan “La” pada depan namanya tersebut menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah Bangsawan (Laki - laki). Kata “Tenri” itu artinya Tidak, sedang Tatta bermakna kemauan. ” Toappatunru” artinya adalah yang menundukkan. (To = orang, Appatunru = yang menundukkan). Jadi, “La Tenri Tatta Toappatunru” itu artinya Laki - laki (bangsawan) yang tidak dapat dibatasi kemauannya dan orang yang menundukkan.

2.Daeng Serang adalah nama Arung Palakka saat berada di Makassar (Saat Bone telah dijajah oleh Gowa, Arung Palakka dan keluarganya dipekerjakan di rumah bangsawan tinggi Gowa sedang Orang Bugis Bone - Soppeng lainnya menderita kerja paksa membangun benteng - benteng Makassar. Arung Palakka pun juga merasakan kerja paksa bersama rakyatnya tersebut).

3.Datu Marioriwawo, artinya Raja di Marioriwawo. Marioriwawo adalah kerajaan yang ada di Soppeng. Kerajaan ini adalah warisan dari ibunya, We Tenrisui Datu Mario Riwawo.

4.Arung Palakka, artinya Raja di Palakka. Palakka adalah salah satu kerajaan yang ada dalam wilayah Bone. Kerajaan Palakka adalah warisan dari kakeknya, La Tenri Ruwa Arung Palakka MatinroE ri Bantaeng (Raja Bone XI). Menurut tradisi Kerajaan Bone bahwa, “Yang berhak menjadi Raja di Palakka, berhak pula menjadi Raja di Bone (Arung Mangkaue’ ri Bone), namun tidak semua Raja Bone pernah menjadi Raja di Palakka”. (Kasim, 2002).

5.Petta Malampeq Gemmekna, artinya Raja yang berambut panjang. Nama ini terkait dengan sumpahnya bahwa Arung Palakka tidak akan memotong rambutnya jika belum berhasil membebaskan rakyatnya dari penjajahan Gowa. (Petta itu sebutan untuk bangsawan tinggi Bugis, Malampeq = panjang, Gemmekna = panjang rambutnya). Rambut Arung Palakka tersebut terus menyertai masa perjuangannya (1660 - 1667) dan nantilah dipotong setelah perjuangannya dianggapnya telah berhasil.

6.Arung Ugi, artinya Raja Bugis (Kompeni Belanda menyebutnya Koningh der Bougis). Gelar ini melekat pada Arung Palakka setelah membebaskan negerinya dari cenkeraman kekuasaan Gowa dan menjadi Penguasa atasan (Raja tertinggi) semua negeri / kerajan Bugis. (Ugi artinya Bugis).

7.Petta Torisompae’, artinya Raja yang disembah. Gelar ini melekat pada Arung Palakka sebagai sebuah sebutan dari rakyatnya karena begitu diagungkannya sosoknya sebagai ‘Pahlawan’ dan Raja yang berjasa menaklukkan Kerajaan Makassar.

8.Sultan Saaduddin, adalah nama atau gelar Islam untuk Arung Palakka

9.Matinroe ri Bontoala , artinya yang meninggal di Bontoala, istananya di Makassar.

Sebenarnya masih ada lagi beberapa nama yang melekat pada diri Arung Palakka, Raja Bone XV ini, seperti Datu Pattiro, Datu Lamuru, dan lain sebagainya tapi tidaklah terlalu populer dan yang umum disebut adalah nama - nama diatas.

Read More

Jumat, 22 Juni 2012

Arung Palakka dan Riwayat Persekutuan 236 tahun

Tulisan ini tak hendak ikut-ikutan memberi cap “pengkhianat” bagi bangsa Indonesia kepada sosok yang dikenal tak punya rasa takut ini “La Tenri Tatta”, sesuatu yang sejatinya tak layak disematkan mengingat nama Indonesia sendiri belum lahir saat Arung Palakka hidup. Meski Hasanuddin, seteru nya dilabeli gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia, tak serta merta kemudian menempatkan Arung Palakka di kutub berbeda.
Arung Palakka



Anak Asuhan Karaeng Pattingalloang


Bone adalah sebuah nama besar. Sejak abad 14M, nama Bone sudah digaungkan dengan berbagai macam panji kebesaran. Adalah Matasilompoé [Manurungngé ri Matajang] (1392-1424) yang tercatat dalam tarikh sebagai yang mula-mula menegakkan kerajaan di pesisir timur semenanjung Sulawesi Selatan ini. Kerajaan yang berada di bibir teluk Bone ini mulai melenggang dalam panggung sejarah Indonesia sejak abad 17 hingga di abad modern kini.


Bone, menyeruak dalam kronik penulisan sejarah nasional Indonesia sejatinya bermula pada posisi yang kurang simpatik. Ketika pertamakali menyebut nama Bone, maka ingatan sejarah kita akan memunculkan sosok Arung Palakka, Raja Bone ke-16 yang bernama lengkap Arung Palakka La Tenritatta To Ureng To-ri SompaE Petta MalampeE Gemme’na Daeng Serang To’ Appatunru Paduka Sultan Sa’adduddin Matinroe ri Bontoala (1672-1696) – sosok penting yang menjadi penyebab jatuhnya kerajaan Gowa Tallo tahun 1669. Juga tak bisa disangkal bahwa dia dan balatentara To Angke nya turut andil di bawah arahan VOC menumpas pemberontakan Minangkabau 1666 dan Trunojoyo Madura 1679.


Arung Palakka, sosok kontroversial ini berada di kutub berseberangan dengan Sultan Hasanuddin, Sultan Gowa yang sezaman dengannya dan kemudian ditahbiskan sebagai Pahlawan Nasional. Karena pilihan politiknya saat itu, dengan tetap menghormati latar belakang sosio-historisnya, Arung Palakka kelak kemudian lebih sering dimasukkan dalam deretan sosok antagonis dalam laku sejarah, berada dalam barisan yang sama dengan Sultan Haji (Banten), Amangkurat II (Mataram), hingga Sultan Hamid II (Pontianak). Namun terlepas dari segala kontroversinya, sosok Arung Palakka nyatanya hingga kini menjadi simbol kehormatan dan perlawanan rakyat Bone terhadap kekuasaan asing (Gowa-Tallo).


Tulisan ini tak hendak ikut-ikutan memberi cap “pengkhianat” bagi bangsa Indonesia kepada sosok yang dikenal tak punya rasa takut ini “La Tenri Tatta”, sesuatu yang sejatinya tak layak disematkan mengingat nama Indonesia sendiri belum lahir saat Arung Palakka hidup. Meski Hasanuddin, seteru nya dilabeli gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia, tak serta merta kemudian menempatkan Arung Palakka di kutub berbeda. Buku Sejarah mesti bijak dan netral menempatkan sosok ini, kalau tak hendak menyesatkan generasi masa depan dengan labelisasi yang menyesatkan. Bagi Bone, Arung Palakka adalah pahlawan. Bagi Gowa Tallo (bukan Indonesia), memang Arung Palakka adalah sosok penentang yang telah mempermalukan Gowa Tallo hingga beratus tahun kemudian. Bagi kita, Arung Palakka layak dijadikan salah satu bahan “pembacaan” bijak mengenai sejarah bangsa bugis mempertahankan kehormatannya.


Arung Palakka sendiri sejatinya sejak berumur 11tahun sudah diasuh dalam lingkungan istana Gowa-Tallo. Adalah Karaeng Pattingalloang, tumabbicara butta (mahapatih) yang turun langsung mengasuh pangeran Bone ini. Bersama puluhan bangsawan Bone, kala itu Arung Palakka berada dalam pengawasan Gowa Tallo sebagai duta/tawanan kerajaan Bone yang baru saja takluk. Arumpone saat itu, La Maddaremmeng (memerintah 1625-1640) dihukum oleh Gowa-Tallo atas desakan bangsawan Bone termasuk ibundanya sendiri Datu Pattiro We Tenrisoloreng, juga karena kerajaan Wajo dan Soppeng merasa terganggu dengan kebijakan politis-ekspansif La Maddaremmeng di wilayah Bone, Wajo dan Soppeng. La Maddaremmeng sendiri dipercaya mendesakkan keyakinannya untuk menghapuskan perbudakan, dan penerapan syariat Islam yang ketat dengan pelarangan sabung ayam, judi dan minum tuak; sebuah kebijakan yang saat itu tidak popular dan mengancam kedudukan para bangsawan. Dalam sebuah serangan kolosal, psaukan Gowa-Tallo yang dipimpin langsung Patih Karaeng Pattingalloang berhasil membekuk Bone dan menawan La Maddaremmeng bersama beberapa pengikutnya, termasuk bocah Arung Palakka dan keluarganya.


Lukisan Rekaan Karaena Pattingalloang


Tentang Karaeng Pattingalloang, bapak asuh Arung Palakka ini terkenal sebagai sosok cerdas penyuka sains yang menjadi sentra kebijakan Gowa-Tallo yang cemerlang. Di masa mahapatih yang menguasai setidaknya tujuh bahasa asing ini, Gowa-Tallo tumbuh menjadi negara maritim yang kuat dan sangat disegani di kawasan Indonesia bagian timur. Tak kurang dari Sulu, Sumbawa, Timor, Bima, Aru, Banda, Borneo merasakan pengaruhnya. Semenjak kejatuhan Melaka tahun 1511 oleh Protugis, para saudagar beralih ke pelabuhan Makassar yang kebetulan memang berada di lintas strategis pelayaran dari dan ke Maluku, kepulauan penghasil rempah yang pesonanya tercium ke seantero dunia hingga bangsa Eropa membangkitkan visi imperialismenya.


Bangsa-bangsa asing banyak berdatangan ke Makassar untuk berniaga, termasuk pedagang Melayu, Inggris, Spanyol, Arab dan Belanda. Pada suatu ketika, pedagang Belanda berbuat keonaran di pelabuhan Makassar dan karenanya mereka diusir dan tak diperkenankan lagi berdagang di Makassar setelah kejadian itu. Sejak itu, dendam mulai dipelihara oleh pedagang Belanda dan menjadi musabab awal diincarnya Gowa-Tallo untuk dikuasai VOC kemudian. Di masa itu, Arung Palakka tumbuh menjadi pangeran cerdas yang mengikuti seksama kebijakan-kebijakan Karaeng Pattingalloang, yang kebetulan juga sangat menghargai kecerdasan Karaeng Serang, nama remaja Arung Palakka.


Tahun 1654, Karaeng Pattingalloang mangkat dan digantikan putranya yang rupanya kurang mewarisi kebijaksanaan ayahnya, Karaeng Karunrung. Karaeng muda ini terkenal sangat temperamental dan lebih menyukai aktifitas militer yang ekspansif. Untuk memperkuat kerajaan Gowa-Tallo, dia memerintahkan pembangunan kanal raksasa di sekitar benteng-benteng yang dimiliki kerajaan. Para tawanan kerajaan dikerahkan dalam pembangunan ini, tidak terkecuali bangsawan-bangsawan Bone termasuk Arung Palakka. Dengan kerja paksa yang melelahkan dan merendahkan martabat mereka, Arung Palakka kemudian berpikir untuk mengumpulkan bangsawan-bangsawan Bone yang jadi pengikutnya untuk melarikan diri dari Makassar. Bersama 4000 pengikutnya, ia menghindari kejaran pasukan Gowa Tallo menuju Buton, kemudian pada akhirnya berlabuh di Batavia tahun 1664 yang disambut oleh sahabatnya Corneelis J Speelman yang saat itu baru saja dipecat dari posisi Gubernur Jendral VOC di Coromandel, Srilanka.


Triumvirat Speelman-Arung Palakka-Jonker

Cornelis J Spellman (1628-1684)




Batavia tahun 1665 menjadi tempat pertemuan tiga pemuda yang masing-masing memiliki ambisi individual menegakkan kehormatannya. Laksamana Cornelis Janszoon Speelman (36tahun) adalah petinggi VOC Coromandel yang dipecat karena perdagangan gelap, Arung Palakka (30tahun) adalah pangeran Bone yang kabur dari kerajaan Gowa-Tallo, Kapitan Jonker (40an tahun) adalah raja muda muslim Tahalele asal Maluku yang terusir dari kampungnya. Ketiganya kemudian diam-diam membentuk sebuah triumvirate yang bergerak di bawah panji perusahaan dagang Hindia Timur milik Belanda VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).


Di tangan triumvirate ini, kekuatan militer menjadi wajah yang lazim digunakan VOC dalam mengamankan kepentingannya. Riwayat kekerasan di balik politik dagang monopolistic konon bermuasal dari persekutuan ini. Berbagai ekspedisi militer dikerahkan di berbagai wilayah kekuasaan VOC, sebutlah misalnya ketika Arung Palakka dan pasukannya dikerahkan dalam ekspedisi Verspreet yang berhasil menumpas perlawanan rakyat Minangkabau dan seluruh pantai barat Sumatera. Ekspedisi militer ini juga berhasil memutus hubungan Minangkabau dengan Aceh, sekaligus berhasil menguasai sumber tambang emas Salido yang terkenal. Oleh Arung Palakka bersama Speelman, kekuasaan VOC diperluas hingga Ulakan di Pariaman yang kemudian mengangkat Arung Palakka diangkat sebagai Raja Ulakan. Kisah seputar riuh penguasaan tambang emas Salido ini kemudian diangkat menjadi latar novel fiksi-sejarah bertajuk Rahasia Meede – Misteri Harta Karun VOC (Penerbit Hikmah, 2007) yang ditulis oleh ES Ito.


Ekpedisi militer lainnya yang melibatkan triumvirate ini juga berlangsung di beberapa daerah, terutama yang terkenal adalah penaklukan Gowa-Tallo dalam Perang Makassar (1667-1669) dan penumpasan pemberontakan Trunojoyo di Jawa Timur (1679). Tercatat juga mereka turun dalam medan perang di Palembang dan Jambi (1681), serta Perang Banten saat memadamkan perlawanan Sultan Abu’lFatah   (1682-1683).


Pencapaian paling penting Arung Palakka bersama dua kompatriotnya ini tak lain adalah takluknya Gowa-Tallo dalam Perang Makassar (1667-1669) dan Bone kembali berdaulat setelah sekian lama menjadi kerajaan bawahan. Tak hanya itu saja, keberhasilan ini menguatkan dominasi dan hegemoni kekuatan Bone, dan Arung Palakka secara individual atas seluruh semenanjung Sulawesi bagian selatan, dari Selayar di selatan, hingga Mandar dan Toraja serta Luwu di utara. Sebaliknya, kekalahan Gowa-Tallo meninggalkan luka sejarah yang mengoyak hubungan kedua bangsa ini hingga beratus-ratus tahun kemudian.


Makam Kapitan Jonker di Pejonkeran, Marunda


Persekutuan tiga serangkai Speelman-Arung Palakka-Jonker ini nyatanya juga meninggalkan jejak di buku-buku sejarah, syair-syair Makassar, sinrilik dan cerita-cerita lokal Bugis Makassar. Bahkan riwayat persekutuan ini terabadikan pada sebuah nama tempat di utara Jakarta. Konon, pasukan Arung Palakka menamakan dirinya sebagai To Angke’ (Bahasa Bugis: Orang Yang Memiliki Kehormatan), sebagai bentuk simbolis gerakan pemberontakan mereka untuk mengembalikan kehormatan Bone dari kuasa kuasa Gowa-Tallo. Hingga kini, tanah perdikan yang dihibahkan kepada Pasukan Bone di mulut teluk Jakarta itu dinamakan Muara Angke, tempat menetapnya orang-orang Bugis Bone yang menamakan dirinya orang Angke’. Hingga kini, kawasan itu banyak didiami oleh orang-orang Bugis perantauan. Kapitan Jonker sendiri mendapat tanah luas di Marunda, yang kelak tanah itu di kenal sebagai daerah Pejonkeran.



Persekutuan 236 tahun


Telatennya Arung Palakka merawat hubungan saling menguntungkan antara dirinya dan Speelman kala itu menjejakkan sebuah kesepahaman untuk saling menjaga kedaulatan bahkan hingga keduanya terubujur mati di dalam tanah. Kedudukan VOC terkuatkan dengan dukungan balatentara dari Bone, dan sebagai imbalannya VOC mendukung penuh kedaulatan Bone atas wilayah dan pengaruhnya dari gangguan kerajaan-kerajaan lainnya. Bahkan Arung Palakka kemudian memperlebar dominasi geo-politis individualnya tidak hanya seluas wilayah Bone yang dia warisi, tapi juga berhasrat mempersatukan Sulawesi Selatan dalam rengkuhan singgasananya, termasuk Toraja dan Luwu di utara, yang sejak dulu jauh dari hiruk pikuk kekuasaan politik di selatan.


Sejatinya, dominasi Bone di Sulawesi Selatan pada abad 17 dan 18M menimbulkan sederet luka pada kerajaan-kerajaan sekitarnya. Meski terikat dalam perjanjian kuno Tellumpoccoe antara tiga kerajaan Bone, Soppeng dan Wajo, namun tak ayal hegemoni Bone yang berlimpah semenjak Perang Makassar menyebabkan kedudukan kerajaan lainnya jatuh ke posisi paria, terutama Wajo dan Mandar. Saat Perang Makassar sendiri, Wajo dam Mandar cenderung memihak ke Gowa-Tallo. Banyak kronik kerajaan-kerajaan itu menyebutkan banyak bangsawan dan rakyat Wajo, juga Mandar dan Toraja diperdagangkan sebagai budak oleh Bone. Saat itu, perdagangan budak memang sempat menjadi komoditas yang sangat menguntungkan. Belum lagi soal beban pajak yang berat dikenakan kepada Wajo yang dianggap kalah perang. Hal yang sama berlaku untuk rakyat Mandar dan Toraja yang juga mengalami kekerasan serupa. Dalam banyak cerita rakyat disebutkan bahwa orang Bone berhak menampar wajah orang Wajo kalau menolak menyeberangkan mereka ke seberang Danau Tempe. Juga bagaimana pemeo yang tertanam di kepala orang Toraja melalui cerita-cerita rakyat bahwa Bone adalah pembawa petaka bagi negerinya. Konflik elite itu sesungguhnya kemudian sangat membekas di kalangan rakyat bawah yang paling merasakan dampak langsung pergumulan politis kerajaan-kerajaan itu.


Akhir hidup tokoh-tokoh persekutuan ini berakhir tragis, kecuali Arung Palakka. Speelman wafat di Batavia pada 11 Januari 1684, meninggalkan banyak kasus korupsi dan penyelewengan kekuasaan setelah dipecat dari posisi Gubernur Jendral VOC. Akhir hidup Kapitan Jonker mengenaskan. Setelah pelindung utamanya, Speelman wafat, ia sendiri kemudian dikejar-kejar pasukan VOC. Rumahnya di Marunda dikepung tahun 1689, dan Jonker yang bernama asli JonckerJouwa de Manipa terbunuh dalam peristiwa itu. Arung Palakka mangkat pada usia 61 tahun di Bontoala, tahun 1696. Ia dimakamkan di wilayah kekuasaan Gowa-Tallo yang diperanginya 30 tahun sebelumnya. Ia meninggal karena penyakit hidung yang menghinggapinya sejak berenang menyeberangi selat Madura di tahun 1679. Tak ada anak kandung yang didapatnya dari tiga pernikahan dengan bangsawan Bugis. Penggantinya, La Patau yang memerintah dari tahun 1696-1714 adalah keponakannya yang diangkat sebagai putra mahkota.


Buah dari hubungan mesra antara Arung Palakka dan Speelman berdampak hingga hingga dua abad setelah keduanya meninggal. Kerajaan Bone menjadi satu-satunya wilayah di Sulawesi Selatan, pun mungkin di seantero kepulauan Indonesia, yang masih bebas merdeka tanpa perlu membayar pajak dan upeti sebagai tanda takluk kepada pemerintah penjajah Belanda selama masa 236 tahun (1669 – 1905). Inilah hak khusus Bone yang mungkin tak dimiliki oleh kerajaan lainnya, dan diperbaharui setiap kali pergantian Gubernur Jendral hingga berakhir pada pecahnya Perang Bone tahun 1905. Perang yang berlangsung selama lima bulan di masa pemerintahan Arumpone LaPawawoi Karaeng Sigeri Matinroe ri Jakarta ini kemudian menamatkan riwayat persekutuan sejati Bone-Belanda sepanjang nyaris 30 windu ini.


Wali PituE Bugis


Arung Palakka, sosok kontroversial yang berada di antara dua sisi sejarah ini memang semacam perekat tiga generasi. Dengan persekutuan yang dirintis melalui Speelman, ia bisa menjaga kedaulatan Bone hingga awal abad ke-20. Yang lebih hebat lagi adalah bahwa Arung Palakka yang sejatinya tak pernah terbersit kronik persentuhannya dengan agama Islam, kelak ditahbiskan sebagai salah satu Wali Pitue tanah Bugis. Mungkin meminjam “mitos” yang mirip dengan Wali Songo, dimasukkannya Arung Palakka sebagai salah satu tokoh wali sufi kemudian mengekalkan ketokohannya, sekaligus mencoba membersihkan tangannya yang penuh lumuran darah kekerasan bahkan saudara seperjuangannya Arung Bakke yang tewas dipenggalnya di Mandar. Di luar segala kontroversinya, Arung Palakka wajar dikagumi sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh luas dan teramat panjang di lintas masa peradaban Bugis dan Indonesia.
Read More